Minggu, 02 April 2017

Fonologi



A.    Pengertian   Fonologi
Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani phone 'bunyi' dan 'logos' tatanan, kata, atau ilmu' dlsebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi dua bagian.
1.      Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suate bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.
2.       Fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.

Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona, sedang fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf. Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu :
1.      udara,
2.      artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan
3.      titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.

B.     Vokal dan Konsonan
·         Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan.
·         Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan.
Yang dimaksud dengan rintangan dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi artikulator .
·         Diftong
Diftong adalah dua vokal beurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Diftong dalam babasa Indonesia adalah ai ,au, dan oi.
Contoh :petai, lantai, pantai, santai, harimau, kerbau, imbau, pulau, amboi.

C.    Fonem dan Pembuktiannya
·         Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti. Fonem dapat dibuktikan melalui pasangan minimal. Pasangan minimal adalah pasangan kata dalam satu bahasa yang mengandung kontras minimal.
Contoh :
 - pola & pula ® rnembedakan /o/ dan /u/
- barang & parang ® membedakan /b/ dan /p/

·         Fonem dan Huruf
Bahasa Indonesia memakai ejaan fonemis, artinya setiap hunuf melambangkan satu fonem. Namun demikian masih terdapat fonem-fonem yang dilambangkan dengan diagraf (dua hunuf melambangkan satu fonem) seperti ny, ng, sy, dan kh.
Di samping itu ada pula diafon (satu huruf yang melambangkan dua fonem) yakni huruf e yang digunakan untuk menyatakan e pepet dan e taling.

Huruf e melambangkan e pepet terdapat pada kata seperti : sedap, segar, terjadi. Huruf e melambangkan e taling terdapat pada kata seperti : ember, tempe, dendeng


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul (2009). Linguistik Umum. Bandung: Rineka Cipta.


Tugas tambahan
 No
Bunyi bahasa
Huruf
Penjelasan
  1.  
Fonem
a
labium terbuka ,udara keluar tanpa hambatan;


i
labium terbuka sedikit, gigi depan atas dan bawah hampir menyatu, udara keluar agak terhambat;


u
labium sedikit terbuka, bibir atas dan bawah membulat, udara keluar tanpa hambatan;


e
labium sedikit terbuka, rongga mulut dan tenggorokan tetapi seperti pada vokal A;


o
labium sedikit terbuka, bibir membulat, udara keluar tanpa hambatan;
  1.  
Fonem diftong



ai
lidah berada pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas [a], dan secara cepat geluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Hujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi membunyikan vokal [i]. Hujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan dan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir dihamparkan.







oi
Bunyi diftong terhasil apabila bunyi satu vokal menggeluncur dengan cepatnya ke satu vokal yang lain.  Caranya ialah lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian digeluncurkan  ke arah membunyikan vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftong oi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi vokal  belakang separuh sempit [o], dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak







au
Bunyi diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas

  1.  
Fonem konsonan

b
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.


c
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.


d
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya diawali oleh desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.


f
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.



g
Pita suara dirapatkan, Arus udara dari paru-paru yang keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita suara, Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut bersuara [g].


h
Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.


 j
Gigi saling berdekatan, bibir agak direntangkan, lidah rileks dan ujungnya hampir menyentuh gusi gigi atas.






k
Belakang lidah dirapatkan ke lelangit lembut untuk membuat sekatan penuh pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak dirapatkan ke rongga tekak bagi menyekat arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara di renggangkan, Arus udara keluar dari paru-paru melaui rongga mulut tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan udara yang dibuat oleh belakang lidah dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut tidak bersuara [k]



l
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.





m
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat sekatan pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Arus udara dari paru-paru masuk ke rongga mulut dan terus ke rongga hidung,  Pita suara dirapatkan untuk membuat getaran,  Arus udara dilepaskan perlahan-lahan.



n
Lidah menyentuh pangkal gigi atas dengan ringan, bibir atas dan sisi rongga bibir atas dan sisi rongga hidung sedikit diangkat, rongga mulut agak dibesarkan


p
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.


q
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia.


 r
Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.



s
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.



t
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.



v
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.




w
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan ke lelangit lembut, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat arus udara udara dari paru-paru ke rongga hidung,  Udara dari paru-paru keluar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan dan lidah bergerak dengan pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah [w].



x
suara badan lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan s, dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan ujung lidah.


 y
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.


z
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.

  1.  

 Fonem kluster

Kh

Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut.


Ny
Tengah lidah bersentuhan dengan langit-langit kasar.



Ng
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).



Sy
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar