Minggu, 02 April 2017

Morfologi



  • A.     Pengertian Morfologi

Secara  etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai  bentuk . Di dalam  kajian linguistic, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti ( makna) dan kelas kata.
Pendapat saya: Morfologi  adalah ilmu bahasa yang menjelaskan mengenai bentuk-bentuk  kata dan perubahan yang terjadi pada kata yang memiliki perubahan arti juga.


  • B.     Proses morfologi

Proses morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan laian yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologi, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan( Reduplikasi), dan proses pemajemukan.


  • C.     Macam-macam proses Morfologi

1.      Proses pembubuhan afiks ( Afiksasi )
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri sedangkan morfem bebas yaitu kata dasar yang dapat berdiri sendiri biasanya seperti kata benda , kata sifat, kata kerja dan lain-lain.
Afiksasi terdiri atas:
a.       Prefiks ( ber-, me-, pe-,per-,di-,ter-,ke-,se-),
b.      Sufiks ( -kan, -an, -i),
c.       Infiks (-el,-em,-er-),
d.      Konfiks ( ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan,  me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e.       Simulfiks( memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i,)

2.      Komposisi atau permajemukan dalam Bahasa Indonesia.
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan dari kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953)
Contoh : kambing + hitam = kambing hitam
               Keras +kepala = keras kepala
Dari kata kambing hitam tersebut bermakna orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan tetapi kambing hitam dalam artian lain dapat berupa seekor kambing berwarna hitam. Dari contoh ini dapat disimpulkan  pokok kata ( tidak dapat diartikan jika sendiri) , tetapi setelah bergabung mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.
3.      Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan  adalah pengulangan satuan gramatika baik seluruh maupun sebagian , baik variasi fonem maupun tidak , hasil pengulangan itu merupakan akat ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar.
Misalnya : Rumah-rumah dari bentuk dasar rumah, teman-teman dari bentuk dasar teman.


  • D.     Pengertian morfem

Morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal morfem mempunyai makna.menurut bentuk dan maknanya morfem di bagi menjadi dua:
1.      Morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tnpa harus dihubungkan dengan morfem lainnya. Semua kata dasar tergolong morfem bebas.
2.      Morfem terikat ,yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. Semua imbuhan (awalan,sisipan,dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat.


                                                                DAFTAR PUSTAKA 
 Kridalaksana, Harimurti.  2001 . Kamus Linguistik . Edisi Ketiga. Jakarta : Gramedia.


TUGAS TAMBAHAN
Membuat  satu paragraf kemudian tentukan berapa jumlah morfem terikat dan bebasnya ??

Pada masa lalu membakar hutan adalah suatu metode praktis untuk membuka lahan. Pada awalnya banyak dipraktekan oleh para peladang  berpindah. Namun karena biayanya murah praktek membakar hutan banyak diadopsi oleh perusahaan kehutanan dan perkebunan. Dalam lingkup ilmu kehutanan ada sedikit perbedaan antara istilah kebakaran hutan dan pembakaran hutan. Pembakaran identik dengan kejadian yang disengaja pada satu lokasi dan luasan yang telah ditentukan. Guna untuk membuka lahan, meremajakan hutan atau mengendalikan hama. Sedangkan kebakaran hutan lebih pada kejadian yang tidak disengaja dan tak terkendali.

Dari paragraf tersebut  terdapat 127 morfem
Morfem bebas =83  
Morfem terikat = 44

SINTAKSIS

Polsek Sesayap Hilir Butuh Sarana Kantor 

KEPOLISIAN Sektor Sesayap Hilir, yang berada dibawah polres Bulungan masih membutuhkan sarana dan prasarana untuk kegiatan operasional sehari –hari. Hal ini diungkapkan oleh Kapolsek Sesayap Hilir, Iptu Andi Sunandar.
Meski mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara dengan peralatan dan fasilitas seadanya, namun pelayanan terhadap masyarakat sangat bagus , dan penindakan terhadap pelaku criminal tetap dilakukan. Terbukti dengan adanya pengungkapan kasus sabu –sabu pada 14 maret. Selain itu, setiap hari pihak Polsek Sesayap Hilir rutin melakukan aktivitas sosialisasi dengan masyarakat umum , serta memediasi konflik-konflik di masyarakat.

“Walaupun bekerja dengan fasilitas seadanya, tapi anggota tetap rutin melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap masyarakat sehari –hari. Terbukti dengan adanya laporan masyarakat tentang adanya pelaku narkoba dan dengan ditangkapnya pelaku yang memakai dan menyimpan narkoba jenis sabu-sabu,”kata pria yang dimutasi dari  Polres Berau ini. 

Untuk itu saya sendiri Andi berharap, agar ada perhatian dari pemerintah daerah, untuk membantu sarana dan prasarana yang ada di Polsek Sesayap Hilir, terutama computer, meja kursi, dan lain-lain, dimana kelengkapan yang ada saat ini, seperti  1 set komputer dan meja kursi nya merupakan pinjam pakai.

Carilah Frase dalam Berita di atas ?

Frase Verbal : butuh sarana kantor, untuk kegiatan operasional, melakukan aktivitas sosialisasi, memakai dan menyimpan narkoba, melaksanakan tugas dan kewajiban, dan  untuk membantu sarana dan prasarana

Frase Adjektiva : Sangat bagus
Frase Pronomina : saya sendiri
Frase Nominal: 1 set computer
Frase Numeralia :  tidak ada
 


Permainan Tadisional
Permainan Jaranan
Sejarah Permainan
Mungkin terinspirasi terhadap hewan kuda (bahasa Jawa: jaran) sebagai binatang tunggangan, maka anak-anak di masyarakat Jawa menciptakan sebuah dolanan anak yang disebut jaranan kuda-kudaan. Bentuk, gambar, dan hiasan-hiasannya memang dibuat menyerupai hewan kuda. Akhirnya mainan itu biasa disebut jaranan. Hampir di setiap daerah di wilayah Jawa mengenal dolanan khas ini. Hingga sekarang masih banyak dijumpai dolanan model ini di berbagai pelosok wilayah Jawa, khususnya apabila ada pasar malam, pertunjukan wayang kulit, pasar-pasar tradisional, cembengan, sekaten, atau pertunjukan tradisional lain saat perayaan merti dhusun (nyadran). Seni tradisional Jawa bahkan ada pula yang memakai jaranan sebagai salah satu alat untuk pertunjukannya, misalnya Jathilan. Hanya saja, bentuk dan ukurannya lebih besar, sesuai dengan postur orang dewasa.
Kamus (Baoesastra) Jawa karya W.J.S. Poerwadarminto terbitan Groningen Batavia tahun 1939 halaman 82 pun telah mencatat istilah jaranan sebagai salah satu bentuk dolanan anak di masyarakat Jawa. Dalam kamus itu diterangkan bahwa jaranan adalah bentuk suatu dolanan permainan yang menyerupai jaran kuda. Berarti memang sebelum tahun 1939, jaranan sudah menyebar di masyarakat Jawa sebagai salah satu bentuk permainan yang sering digunakan oleh anak-anak.

Cara Membuat dan Melakukan Permainan
Jaranan biasanya dibuat dari bahan gedheg dinding bambu yang dibentuk menyerupai jaran kuda. Selesai dibentuk menyerupai kuda, dibingkai dengan belahan bambu di semua pinggirnya. Juga digambari dengan cat atau sejenisnya sehingga terlihat gambar kuda. Tidak lupa dihiasi dengan rumbai-rumbai di sekitar leher dengan rafia. Ukuran untuk anak-anak biasanya tidak lebih dari 40 cm (tinggi) dan 100 cm (panjang). Namun begitu, untuk bahan yang lebih sederhana, biasanya jaranan dibuat dari pelepah daun pisang. Setelah daunnya dibuang, pelepah dierati beberapa bagian lalu dibentuklah menyerupai jaranan. Lalu diberi tali di bagian kepala dan ekor. Tali tersebut dikalungkan di leher anak yang bermain jaranan ini. Di beberapa daerah, seperti di Kulon Progo, seperti yang pernah dijumpai oleh Tembi, jaranan dibuat dari bahan bonggol bambu. Bonggol bambu ini dibuat menyerupai kuda dan dimodifikasikan dengan kayu lain yang digunakan sebagai tubuh kuda-kudaan. Jadilah dolanan yang disebut jaranan. Ada pula yag dibuat dari kayu dengan kepala mirip kuda dan bagian tubuh dibuat bergoyang, sehingga anak-anak bisa duduk dan bermain di atasnya. Kiranya yang disebut terakhir ini adalah mainan inovasi baru, yang dulu belum dikenal. Bahkan hingga saat ini masih banyak pula di masyarakat Jawa yang melestarikan seni tradisi Jathilan. Seni tradisi ini sering pula disebut kuda lumping karena menggunakan media utama berupa jaranan. Hanya ukuran jaranan ini lebih besar sesuai dengan postur orang dewasa yang memainkan. Dalam seni tradisi Jathilan biasanya sudah dilengkapi dengan tabuhan musik tradisional dan seringkali dipertontonkan dalam berbagai acara, seperti festival, pasar malam, penyambutan tamu, upacara tradisi, dan sebagainya. Anak-anak yang bermain jaranan bisa sendirian atau bisa pula berkelompok dengan teman-temannya. Saat ini, dalam bermain jaranan, biasanya anak-anak tampil dalam acara festival. Bahkan dolanan ini juga dilengkapi dengan syair yang berjudul Jaranan. Teks lengkapnya demikian:
Lirik Lagu

Jaranan-jaranan… jarane jaran teji

(Berkuda, berkuda, kudanya tinggi besar)

sing nunggang Ndara bei, sing ngiring para abdi

(yang menaiki Tuan Besar, yang mengiring para abdi)

jeg jeg nong..jeg jeg gung, jrek ejrek turut lurung

(Jeg-jeg nong, jeg-jeg gung, prok prok menyusuri jalanan)

gedebug krincing gedebug krincing, prok prok gedebug jedher

(Gedebug krincing gedebug krincing, prok prok gedebug jedher)