Permainan
Tadisional
Permainan Jaranan
Sejarah Permainan
Mungkin terinspirasi terhadap
hewan kuda (bahasa Jawa: jaran) sebagai binatang tunggangan, maka anak-anak di
masyarakat Jawa menciptakan sebuah dolanan anak yang disebut jaranan ‘kuda-kudaan’. Bentuk, gambar, dan
hiasan-hiasannya memang dibuat menyerupai hewan kuda. Akhirnya mainan itu biasa
disebut jaranan. Hampir di setiap daerah di wilayah Jawa mengenal dolanan khas
ini. Hingga sekarang masih banyak dijumpai dolanan model ini di berbagai pelosok
wilayah Jawa, khususnya apabila ada pasar malam, pertunjukan wayang kulit,
pasar-pasar tradisional, cembengan, sekaten, atau pertunjukan tradisional lain
saat perayaan merti dhusun (nyadran). Seni tradisional Jawa bahkan ada pula
yang memakai jaranan sebagai salah satu alat untuk pertunjukannya, misalnya
Jathilan. Hanya saja, bentuk dan ukurannya lebih besar, sesuai dengan postur
orang dewasa.
Kamus (Baoesastra) Jawa karya
W.J.S. Poerwadarminto terbitan Groningen Batavia tahun 1939 halaman 82 pun
telah mencatat istilah jaranan sebagai salah satu bentuk dolanan anak di
masyarakat Jawa. Dalam kamus itu diterangkan bahwa jaranan adalah bentuk suatu
dolanan ‘permainan’ yang menyerupai jaran ‘kuda’. Berarti memang sebelum tahun
1939, jaranan sudah menyebar di masyarakat Jawa sebagai salah satu bentuk
permainan yang sering digunakan oleh anak-anak.
Cara Membuat dan Melakukan Permainan
Jaranan biasanya dibuat dari
bahan gedheg ‘dinding bambu’ yang dibentuk menyerupai jaran ‘kuda’. Selesai dibentuk menyerupai kuda,
dibingkai dengan belahan bambu di semua pinggirnya. Juga digambari dengan cat
atau sejenisnya sehingga terlihat gambar kuda. Tidak lupa dihiasi dengan
rumbai-rumbai di sekitar leher dengan rafia. Ukuran untuk anak-anak biasanya
tidak lebih dari 40 cm (tinggi) dan 100 cm (panjang). Namun begitu, untuk bahan
yang lebih sederhana, biasanya jaranan dibuat dari pelepah daun pisang. Setelah
daunnya dibuang, pelepah dierati beberapa bagian lalu dibentuklah menyerupai
jaranan. Lalu diberi tali di bagian kepala dan ekor. Tali tersebut dikalungkan
di leher anak yang bermain jaranan ini. Di beberapa daerah, seperti di Kulon
Progo, seperti yang pernah dijumpai oleh Tembi, jaranan dibuat dari bahan ‘bonggol’ bambu. Bonggol bambu ini dibuat
menyerupai kuda dan dimodifikasikan dengan kayu lain yang digunakan sebagai
tubuh kuda-kudaan. Jadilah dolanan yang disebut jaranan. Ada pula yag dibuat
dari kayu dengan kepala mirip kuda dan bagian tubuh dibuat bergoyang, sehingga
anak-anak bisa duduk dan bermain di atasnya. Kiranya yang disebut terakhir ini
adalah mainan inovasi baru, yang dulu belum dikenal. Bahkan hingga saat ini masih
banyak pula di masyarakat Jawa yang melestarikan seni tradisi Jathilan. Seni
tradisi ini sering pula disebut kuda lumping karena menggunakan media utama
berupa jaranan. Hanya ukuran jaranan ini lebih besar sesuai dengan postur orang
dewasa yang memainkan. Dalam seni tradisi Jathilan biasanya sudah dilengkapi
dengan tabuhan musik tradisional dan seringkali dipertontonkan dalam berbagai
acara, seperti festival, pasar malam, penyambutan tamu, upacara tradisi, dan
sebagainya. Anak-anak yang
bermain jaranan bisa sendirian atau bisa pula berkelompok dengan
teman-temannya. Saat ini, dalam bermain jaranan, biasanya anak-anak tampil
dalam acara festival. Bahkan dolanan ini juga dilengkapi dengan syair yang
berjudul “Jaranan”. Teks lengkapnya demikian:
Lirik Lagu
Jaranan-jaranan…
jarane jaran teji
(Berkuda, berkuda,
kudanya tinggi besar)
sing nunggang Ndara
bei, sing ngiring para abdi
(yang menaiki Tuan
Besar, yang mengiring para abdi)
jeg jeg nong..jeg
jeg gung, jrek ejrek turut lurung
(Jeg-jeg nong,
jeg-jeg gung, prok prok menyusuri jalanan)
gedebug krincing
gedebug krincing, prok prok gedebug jedher
(Gedebug krincing
gedebug krincing, prok prok gedebug jedher)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar